Penanganan Kasus Nervus Facialis VII (BELLS PALSY) Paling Tepat

jangan murung dulu jika mengalami bells palsy

Hello there! Selamat berjumpa di pembahasan hari ini tentang penyakit Bell's Palsy atau dalam bahasa medis disebut Nervus Facialis VII. Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan Bells Palsy? Bells Palsy secara sederhana didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang menyerang syaraf periferal wajah sehingga menyebabkan suatu kelumpuhan. Bells Palsy bisa terjadi melalui 2 proses. Pada kasus pertama dia bisa tiba-tiba saja muncul, sementara itu pada kasus kedua dia bisa muncul disebabkan oleh terjadinya benturan keras pada salah satu sisi wajah.

Tulisan saya kali ini berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri yang mengalami Bells Palsy akibat kecelakaan lalu lintas. Karena amnesia, sebagian memori jangka pendek saya hilang. Akibatnya saya kehilangan beberapa memori sekitar kejadian kecelakaan tersebut. Akan tetapi setelah beberapa bulan berlalu, ingatan saya perlahan membaik meski tetap tidak bisa mengingat memori yang hilang.

Akibat tersenggol sebuah bus antar kota dalam provinsi, saya terjungkal di jalan raya dan mengalami koma. Setelah siuman, kondisi saya mulai mengalami perkembangan seiring perawatan kesehatan dan juga berbagai obat-obatan yang saya konsumsi. Namun ada 2 hal yang belum pulih sepenuhnya dan sepertinya memang tidak mau pulih. Wallahua'lam.

Kedua kondisi tersebut adalah cerebral palsy alias bells palsy dan cephalgia chronic. Entah kenapa sejak kejadian kecelakaan di tahun 2009 silam hingga hari ini kedua penyakit tersebut masih setia bersama saya. Bedanya, cephalgia chronic hanya datang sesekali ketika tubuh dan pikiran ini terlampau lelah. Sebaliknya, bells palsy selalu 24 jam ada karena bells palsy adalah penyakit kelumpuhan syaraf.

Jika dilihat sekilas saja, bagian wajah yang terkena Bells Palsy akan tampak seperti gejala penyakit stroke. Bagian wajah sebelah kiri saya menampakkan tampilan asimetris dengan bagian sebelah kanan. Namun setelah beberapa kali melakukan fisioterapi di rumah sakit umum daerah, kondisi tersebut mengalami sedikit perbaikan. Hanya saja karena kecelakaan yang terjadi amat parah serta pengetahuan keluarga saya mengenai gejala Bells Palsy masih sangat kurang, kami hanya pasrah kepada pihak terapis.

Dalam perjalanan terapi saya, ada sedikit cerita kurang mengenakkan yang terjadi. Kondisi saya saat itu sudah bisa berjalan namun masih lemah. Belum lagi kondisi otak saya yang masih di bawah trauma mendalam akibat kejadian kecelakaan hingga mengalami perdarahan, sekaligus ditambah berbagai masalah kehidupan yang pada saat itu sangat berat. Semua itu kontan menjadi faktor yang memperlambat proses penyembuhan saya. Betapapun beratnya yang harus saya tanggung kala itu saya tetap tidak mau menyerah. Setiap hari saya pergi ke rumah sakit untuk melakukan fisioterapi.

Di bagian fisioterapi ada beberapa terapis yang bertugas. Rentang usia mereka juga bermacam-macam dari yang muda hingga tua semua ada. Jam terapi saya full setiap hari kecuali hari libur. Ini membuat saya dan orangtua menjadi akrab dengan para petugas di sana. Biasanya saya berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB dan selesai perawatan sekitar pukul 13.00 WIB. Dari semua petugas yang bertugas, saya ingat ada satu orang yang agak slengso (ngawur) dalam merawat saya. Bagaimana ngawurnya?

Sebelumnya saya tidak tahu entah dia memang tidak terampil, tidak profesional, malas bekerja atau apapun itu hanya dia yang tahu. Hanya saja, setiap kali saya diterapi oleh dia pasti rasanya sangat sakit. Sebagai pasien yang diterapi setiap hari tentu saya sudah pernah kebagian diterapi oleh semua petugas yang ada di sana secara bergantian. Semuanya bekerja dengan baik dan profesional kecuali ibu terapis yang satu ini. Pada waktu itu sekitar tahun 2010 saya menyebutnya dengan ibu rambut pendek. Beliau berusia sekitar 50 tahun, berambut hitam sebahu, dan tidak berjilbab.

Untungnya saya bisa dibilang tidak terlalu sering diterapi oleh beliau. Dari ratusan hari saya melakukan terapi, sepertinya ibu rambut pendek ini menterapi saya hanya beberapa puluh kali. Namun dengan beberapa puluh kali itu telah berhasil membuat syaraf wajah saya konslet dan menjadi lebih rusak!

Sekedar informasi, kondisi Bells Palsy pada wajah saya ini diberikan terapi berupa pancaran sinar infra merah selama 30 menit yang dilanjutkan dengan semacam terapi aliran listrik. Jadi bagian wajah saya yang mengalami kerusakan syaraf dirangsang menggunakan aliran listrik agar dapat hidup atau bekerja normal kembali. Nah kalau bagian ibu terapis rambut pendek pasti aliran listriknya terasa sangat menyakitkan.

Sebagai anak remaja yang pada saat itu baru berusia 19 tahun, saya hanya menurut saja. Dalam hati saya berpikir, kenapa kalau diterapi oleh ibu terapis rambut pendek itu rasanya menyakitkan dan berbeda dengan terapis lainnya. Jawabannya akhirnya saya dapatkan dari ibu terapis senior yang paling keibuan di sana. Suatu hari, ibu terapis berjilbab yang keibuan itu mengatakan telah terjadi konslet pada syaraf wajah saya. Beliau menginstruksikan untuk menghentikan terapi setrum listrik. Sayapun bergumam dalam hati, ini kerjaan ibu terapis rambut pendek itu yang selalu menyetrum wajah saya dengan listrik tingkat tinggi hingga saya kesakitan.

Ya apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Sekarang saya hanya bisa semakin bersedih karena (di luar faktor takdir) syaraf saya dirusak oleh terapis syaraf rumah sakit daerah. Ya sudah saya hanya bisa pasrah dan memang harus menerima kenyataan. Mulai saat itu saya yang trauma terhadap rumah sakit mulai apatis kepada rumah sakit. Jika bukan karena kondisi gawat darurat, rasanya saya tidak mau berobat ke rumah sakit.

Mengobati Bells Palsy Sendiri Di Rumah

Satu tahun berselang, saya kembali masuk kuliah meski terseok-seok dengan kondisi seperti itu. Di tempat kuliah saya di Semarang, saya mulai mencari tahu berbagai informasi terkait penyakit Bells Palsy. Alhamdulillah setelah pencarian yang panjang, saya mendapatkan beberapa kesimpulan tentang pengobatan Bells Palsy secara alami.
Ketika di suatu hari Anda tiba-tiba mendapati salah satu sisi wajah menceng atau menjadi tidak simetris dengan sisi lainnya tanpa pernah mengalami hipertensi maupun obesitas, bisa jadi itu adalah Bells Palsy. Segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penjelasan dari ahli. Setelah itu Anda bisa mulai melakukan perawatan di rumah.

#1 Menghindari Hawa Dingin
Sebisa mungkin hindarilah hawa dingin baik itu di bawah AC maupun di tempat yang banyak terdapat angin. 

#2 Hangatkan Wajah
Sering-seringlah menghangatkan bagian wajah Anda yang terkena Bells Palsy untuk membuat otot dan syaraf lebih relaks. Gunakan air hangat yang telad dimasukkan ke dalam botol kaca lalu tempelkan pada bagian wajah yang diserang Bells Palsy.

#3 Pijat
Waktu paling baik untuk memijat wajah adalah setelah dikompres dengan air hangat. Namun jika tidak, Anda juga tetap bisa memijat area wajah kapanpun ada kesempatan.

#4 Senam Wajah
Senam juga bisa turut serta dalam merangsang syaraf wajah agar kembali aktif dan sehat seperti semula. Lakukan sesering mungkin, misalnya dengan mengucapkan kata ma, mi, mu, me,.mo secara berulang-ulang.

#5 Konsumsi Vitamin
Ketika saya masih mengkonsumsi obat rumah sakit, mereka memberikan saya mecobalamin dan juga vitamin B kompleks. Namun setelah malpraktek yang dilakukan terapis itu, saya tidak lagi mengkonsumsi obat karena beberapa bagian syaraf telah mati.

#6 Makan Sayur dan Buah
Perbanyak konsumsi sayur dan buah dengan aneka warna dan bentuk. Ini sangat bermanfaat untuk mempercepat proses pemulihan.

#7 Makan Biji-bijian dan Kacang-kacangan
Tambahkan bahan pangan dari biji-bijian dan kacang-kacangan alami ke dalam menu diet Anda. Ini dapat membantu menambah pasokan vitamin B kompleks dan juga menambah tenaga.

Bells Palsy yang muncul secara tiba-tiba akibat cuaca dingin secara umum lebih mudah dan cepat untuk disembuhkan daripada yang terjadi akibat benturan keras. Jadi, jika Anda menyadari ada yang salah dengan salah satu sisi wajah Anda, segera hubungi dokter dan lakukan terapi mandiri di rumah dengan poin-poin yang telah saya jelaskan di atas. Jika Anda melakukannya secara disiplin dan berketerusan, insyaa Allah dalam waktu dekat penyakit tersebut telah sembuh.

Sekian artikel kali ini tentang perawatan untuk penyakit Bells Palsy yang paling tepat. Semoga setelah membaca tulisan ini Anda dapat melakukan terapi perawatan Bells Palsy secara alami di rumah tanpa harus pergi ke rumah sakit.

Semoga artikel ini bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya! ^_^

(diens)

Posting Komentar untuk "Penanganan Kasus Nervus Facialis VII (BELLS PALSY) Paling Tepat"